Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2011

Masyarakat kampung Tj.Rangas yang akrab dengan laut


(sebuah catatan singkat wawancara dengan tokoh masyarakat Tj.rangas)

Kampung rangas dalah sebuah kampung yang berada di pesisir pantai timur kota Kabupaten Majene, sebuah kampung yang terletak di Propinsi Sulawesi Barat. Menurut pengakuan seorang tokoh masyarakat didaerah ini, Kampung Rangas merupakan kampung yang telah berdiri ratusan tahun lamanya. Selain memiliki tenggang rasa yang tinggi, masyarakat di kampung ini pula sangat giat dengan aktifitas di laut, mulai dari mencari ikan sampai dengan membuat kapal bercadik atau yang biasa dikenal dengan sandeq (sebuah perahu tradisonal berukuran kecil khas sulwesi barat yang memiliki cadik dikedua sisinya).
bersama bapak nelayan

perahu bercadik

   

perahu bercadik sandar

Masyarakat yang mendiami daerah pula ini sangatlah beragam, hal ini terlihat dengan corak penggunaan bahasa dan dialeknya yang beragam. Menurut warga yang kami temui, bahasa dan dialek disini sangat dipengaruhi oleh dialek beberapa etnis di sulawesi selatan, misalnya Toraja, Bugis dan Makassar. Namun kekentalan bahasa bahasa asli suku mandar pula terletak disini. Kata Tokoh masyarakat Rangas.

Luas wilayah kampung yang tak begitu besar serta geografinya yang dikelilingi oleh tebing serta pantai memungkinkan warga daerah ini untuk saling mengenal satu dan yang lainnya. Dalam aktifitas sehari-sehari, masyarakat rangas sebagian besar bangun tidur lebih awal dari kebiasaan umum warga kota. Mereka bangun pukul 06.00 pagi atau sesudah shalat subuh, anak-anak muda dan orang tua berbaur untuk segera menyiapkan perlengkapan mencari ikan, dan baru kembali dari melaut sekitar pukul 10.00 malam atau 12.00, akan tetapi semua bisa berubah berdasarkan keadaan alam, ujar seorang tokoh masyarakat kepada kami.

Dahulu kala disini (kampung Rangas) masyarakatnya sangatlah alamiah, dalam artian masyarakat disini tidak mengenal namanya teknologi, apalagi mesin kapal..!! Saat kami (Warga) berlayar kami hanya mengandalkan tanda-tanda alam sebagai penggerak dan panduan kapal, seperti bintang, ombak layar dan awan..”namun sewaktu-waktu nenek kami dulu menggunakan mantra untuk menenangkan ombak, angin yang kencang serta mantra memuluskan jalannya pelayaran dilaut, Kata tokoh masyarakat kepada kami dengan roman wajah yang serius, mungkin berusaha mengingat-ingat kejayaan mereka saat melaut dahulu.

Masyarakat Rangas juga punya kebiasaan lain, Masyarakat disini sebelum mengenal PDAM atau air kran, masyarakat disini pergi beramai-ramai mengambil air ditempat yang cukup jauh. Tak hanya tua dan muda, anak-anak juga sepulang sekolah tidak langsung makan, melainkan ikut dan terlibat pada kegiatan tersebut. Jadi disini bila sewaktu-sewaktu akan ada perayaan pesta pernikahan atau pesta adat yang lainnya, kami bukan membicarakan persiapan makanan atau jumlah tamu yang akan diundang, melainkah berapa jumlah tenaga sukarela yang akan pergi mengambil air, ujar seorang warga kampung rangas.

Selain radikalnya nostalgia masa silam kampung rangas yang disuguhkan kepada kami, tokoh masyarakat rangas ini pula bercerita tentang bagaimana masyarakat disini merawat kebersihan kepala mereka sepulang melaut bermingu-minggu. Dulu kami tak kenal sampo, katanya. Masyarakat disini merawat kulit kepalanya dengan shampo olahan sendiri, makanya kulit kepala dan rambut mereka kuat, hingga jangan heran, warga disini berambut tebal dan panjang. Salah satunya ibu saya dahulu, ia berumur sekitar 100-an tahun, namun rambutnya hingga ia (ibu dari tokoh masyarakat rangas) meninggal tetap kuat dan tebal. Ujar Tokoh masyarakat Rangas kembali kepada kami.

Ada cerita rakyat yang berkembang pada daerah ini, bahwa nenek moyang atau induk dari daerah kampung Rangas ini adalah seekor ikan. Oleh karenanya daerah ini beserta masyarakatnya sangat dekat dengan aroma amis lautan. Walhasil anak-anak muda pada zaman saya (Tokoh masyarakat Rangas) sudah berani melayari lautan hingga ke Kalimantan dan Daerah-daerah yang lainnya meski hanya bermodalkann pengetahuan membaca tanda-tanda alam dan sedikit pengetahuan yang diajarkan para orang tua kami yang sudah berpuluh-puluh tahun melaut.

Selain kisah-kisah tentang kejayaan melayari lautan nusantara, masyarakat Rangas juga menyimpan beberapa ritus yang masih terjaga hingga saat ini, Misalnya mitos. Dalam diskursus Kebudayaan mitos merupakan sebuah sumber ajaran lisan yang mengintisarikan sebuah ajaran tentang keluhuran hidup, kesederhanaan dan pantangan-pantangan dalam praktek kehidupan harian.

Sungguh kampung yang kompleks!, di kampung Rangas ada sebuah keyakinan tentang ikan, sebuah simbol dari peradaban dan nenek moyang pertama kampung ini. Jika seseorang sedang membakar ikan, maka hendaklah orang tersebut tidak boleh memperlakukan ikan tersebut dengan perlakuan semborono. Dalam arti keterangannya : ikan yang dibakar tersebut tidak boleh dicicipi diatas panggangannya atau ikan tesebut tidak boleh dimakan dengan menggunakan alat bantu yang kotor, misalnya passipi' (sebuah alat jepit tradisional yang terbuat dari bambu dan digunakan untuk menjepit benda yang berukuran kecil, licin dan benda yang sedang dalam keadaan panas). Jika sampai hal tersebut dilanggar maka akan terjadi sebuah peristiwa naas, jika orang tersebut pergi melaut maka ia akan akan dimakan buaya, jika ia kesungai atau rawa ia pula akan dimakan buaya. Seperti itulah mitos ini dipahami masyarakat Rangas, Sebagai sebuah subjek, ikan adalah lambang keterwakilan dari peradaban nenek moyang kampung Rangas. Mereka sangat menghargainya.

Sekali lagi kampung ini membuat jantung kami berdegup kencang, sungguh kampung yang begitu eksistensialis ditengah gemerlapnya masyarakat mellenia merayakan modernisasi, Sisi lain kampung inipun tak kalah radikalnya, Kampung Rangas memiliki Anak-anak yang kuat dan ramah, inilah kesan yang tersungging saat bertemu dengan anak-anak kampung Rangas. Layaknya kebisaan anak-anak diperkampungan nelayan lainnya, mereka juga tak kalah antusiasnya. Sehari-hari kehidupan mereka selalu bertumpu dengan asinnya air laut, panasnya terik matahari dikebun, serta hangatnya pertemanan dan solidaritas diantara anak kampung Rangas.

Biasanya anak-anak Rangas bila tak sedang melaut, mereka hanya menghabiskan waktunya nongkrong di persimpangan jalan-jalan kampung. Atau duduk disalah satu rumah dari teman mereka, disanalah diskusi dan suasana akrabnya terbangun. Ditemani ballo' tala' (tuak, minuman lokal sulbar yang terbuat dari pohon tala) mereka mulai larut dengan riuh dan canda.

bek sedang menikmati pasir putih bersama
anak-anak Tanjung Rangas

bok sedang berbincang-bincang
dengan pemuda Tanjung Rangas

bermain bersama anak-anak


Namun anak-anak ini bukanlah seorang Alkoholik, seperti para candu yang terus menerus bergantung pada benda atau barang yang membuatnya ketagihan. Mungkin kondisi pecandu demikian sangat mudah kita akan temukan di Kota-kota besar namun tidak di Kampung Rangas. Anak-anak ini adalah tipe anak-anak yang memiliki rasa solidaritas yang tinggi, peka dan rela berbuat apapun demi kepentingannya.

Rasa solidaritas demikian bukan hanya isapan jempol bagi mereka (anak-anak rangas), Hal ini terbukti dengan kehadiran mereka dalam setiap persiapan acara-acara adat ataupun pesta-pesta pernikahan. Mereka cukup dipanggil, lalu mereka akan hadir dan bekerja sesuai dengan arahan sang tuan acara. Mereka akan bekerja dengan senang hati dan penuh tanggung jawab. Bagi mereka bekerja diacara-acara seperti itu adalah ajang ngumpul-ngumpul dikampung, mereka senang melakukannya.

Kampung Rangas beserta anak-anak didaerah tersebut adalah sebuah gambaran dinamika sosial yang seharusnya terjadi dan menjadi panutan bagi kita di dunia yang semakin menggila ini. Sebuah kampung nelayan yang terus memainkan dinamikanya sendiri. Inilah sebuah kampung yang bernama Tanjung Rangas. Sebuah definisi kehidupan yang tak sempat direkam oleh sains berabad-abad lamanya. Sudah menjadi keharusan, manusia abad forex ini kembali mendelegitimasi jalannnya dialektika mesin , ruang dan waktu. Bukankah sejarah tak berhak mengeliminir manusia dari mata rantai peradaban? Bukankah negasi yang akan menegasi sebuah dunia yang baru buat kita semua? Semoga jawaban kita adalah berlawan!, mendelegitimasi peradaban mesin-mesin yang menjauhkan kita dari kehidupari kita yang sesungguhnya.

Sahabat Laut

Bok dan Bek


Catatan ini kami dedikasikan buat se-isi alam, warga kampung Tanjung Rangas. Semoga pertempuran kita tak akan berhenti hingga esok hari, hari dimana kita akan berkata tidak pada kerakukasan. Panjang umur kalian semua, sampai berjumpa dibarikade perlawanan. Salam.

Pantai Timur majene,Tj Rangas. kamis 6 oktober 2011

Senin, 31 Januari 2011

Perjalanan ke dusun Sinoa

pengikisan gunung di dusun sinoa.

dusun sinoa adalah dusun yang terletak di daerah pegunungan bantaeng. apabila kalian melewati daerah jeneponto hingga perbatasan bantaeng, pemandangan yang terlihat adalah jagung sepanjang mata memandang. jagung adalah tanaman andalah masyarakat jeneponto dan bantaeng, hingga mencapai di daerah dusun sinoa diatas pegunungan.

1 mei 2008, perjalanan dari makassar menuju dusun sinoa sebenarnya tanpa sepengetahuanku tujuan kami kemana. tapi setelah melalui terminal malengkeri, saya menebak kami akan kearah gowa keatas. dan betul saja, sesuai instruksi kekasihku dan papan info di mobil, kami akan ke bantaeng.

tiga jam perjalanan hingga ke kota bantaeng dengan menggunakan mobil sewaan, agak mahal memang dengan 30rb perorang. setelah itu kami harus menumpang mobil sayur yang membawa penumpang hingga ke dusun sinoa dengan biaya 10rb peorang. jadi total biaya perjalanan ke dusun sinoa adalah 80rb perorang pulang balik dengan menaiki mobil sewaan, yah sebaiknya kalian hitch hike saja karena 30rb terlalu mahal untuk jarak segitu dan ada banyak pemandangan yang bisa kamu nikmati selain lahan jagung dan padang rumput yang luas di perbatasan jeneponto bantaeng.

setiba di dusun, kami disambut oleh pria berkulit hitam yang saya ketahui nantinya adalah anak kepala dusun sinoa yangsenyum rumahnya menjadi tempat menginap kekasihku ketika melakukan kegiatan penelitian siswa dulunya, maka tak salah kalau mereka begitu akrab. kami disambut hangat ketika sampai ke rumah tembok yang sederhana dengan seorang ibu yang tidak lancar berbahasa indonesia, adik pria tersebut dan seorang pria tua pendek yang tersenyum ramah. tapi saya masih canggung, bahkan untuk duduk di sofa ruangtamu mereka saya agak kaku.

perjalan kali itu agak membuatku terguncang, itulah pertama kalinya kami memulai perjalanan berdua. ada rasa malu-malu, menjaga tampilan dan tak natural. saya berusaha menutupinya namun kami sama-sama masih tahap perkenalan dan gejolak itu tak bisa ditutupi oleh perbincangan kaku seputar proyek penelitian berdua tentang tanaman andalan masyarakat dusun sinoa.

hari pertama kami beristirahat, ada banyak kamar tidur dirumah itu. tidur kami lumayan nyenyak hingga tak mengetahui keberangkatan kepala dusun ke kebun. udara di dusun tersebut sangat dingin, membuatku segan beranjak lekas-lekas, meski dengan paksaan sang kekasih. belum lagi saya harus menyentuh air di bak mandi, dingin euy. tapi tentu tanpa melewatkan pemandangan belakang rumah yang tak mungkin bisa kami dapatkan di perkotaan.

sehabis membersihkan diri, mak mengajak kami sarapan. seperti di kampung-kampung manapun, makanannya terasa begitu luarbiasa enak. kami berkali-kali nombok, sayur daun ubi dengan santan kelapa, sambel terasi dengan lauk ikan kering, saya pikir ini tak bisa disamakan dengan makanan restoran apalagi siap saji. selesai makan, membersihkan sisa makanan, kami berencana akan berjalan-jalan ke daerah pertanian kampung.

berjalan kaki didaerah tinggi seperti sinoa tidak akan terasa lelah, betul-betul lukisan alam yang tak akan bisa kamu nikmati hanya melalui gambar-gambar di buku, kamu harus melihatnya sendiri. hawa dingin dan tanah yang selalu basah tak pernah menghalangiku melangkahi jalanan dusun sinoa hingga beberapa tahun kemudian kami masih kembali ke sinoa. seperti pagi itu ketika berjalan-jalan kecil, sembari melihat lahan bawang kami diajak seorang petani lokal kerumahnya. kami berbincang-bincang sebentar kemudian diajak melihat-lihat lahan bawang, bapak yang saya lupa namanya itu menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk ke lahannya yang masih memperlihatkan tunas bawang.

bawang adalah adalah tumbuhan sejenis tunas-tunasan, ada yang mengatakan itu adalah tumbuhan umbi-umbian namun kalau dilihat lebih teliti ternyata dia mempunyai akar yang menyerupai serabut akar yang menyerap air untuk disuplai menjadi makanan untuk si bawang. penanamannya tidak terlalu sulit, cuma butuh bibit air dan perawatan. biasanya bawang ditanam dengan tanah yang digundukan dengan jarak 3cm setiap bibitnya, jangan terlalu banyak air jika tak ingin tanaman bawangmu gagal. itu sedikit yang saya dapat dari ngobrol-ngobrol singkat kami.

kami pamit dan melanjutkan jalan-jalan kami kearah yang lebih tinggi, kami mendapati lahan tomat. kami hanya melihat-lihat, petani yang sedang melihat-lihat lahan tomat mereka duduk disamping kami, kelihatannya bapak-bapak berkuda ini dari arah lapangan tempat mereka sering memberikan makan ternaknya. kami ditanyai macam-macam, tujuan kami ke sinoa, kami siapa, dikirim oleh siapa, darimana dan banyak lagi. kami menjawabnya dengan tenang tanpa perlu memperlihatkan keromantisan kami, disini adat masih sangat dijunjung tinggi, perempuan dan lelaki berjalan berdua keluar kota bukanlah hal yang bisa cepat diterima mereka. jadi kami hanya mengenalkan diri kami sebagai sepasang teman yang sedang melakukan penelitian tumbuh-tumbuhan. sebaliknya kami juga bertanya macam-macam tentang banyak hal mengenai tumbuhan tomat.

Menjelang sore kami beranjak ke tempat yang lebih tinggi, menuju pohon tertinggi di dusun tersebut ditemani bapak yang kami temui di lahan jagung dekat rumah pak dusun.  Mendaki ke arah atas kami mendapati beberapa kampung, diantaranya adalah kampung bonto maccini dan kampung bambu (kampung yang dipenuhi perumahan dari bahan bambu). Kami sempat singga beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan. Kampung ini dihuni tidak sampai dua puluh kepala keluarga, warga kampung ini sebagian besar bertani, berkebun dan bermalas-malasan dirumah. Tiap malam kami pasti disuguhi ketela masak dengan cocolan sambal terasi yang harum.

Persiapan kami cuma joging sore yang teratur, tidak terlalu berat karena kabut dingin yang menyapa kami tiap pagi hingga sorenya, serta sapaan ramah warga sekitar. Daypack pun terisi penuh dengan bekal dan perlengkapan yang cukup. Baterei MP3 kami hemat sehemat mungkin untuk menemani pendakian nantinya, katanya jika kami terus kearah atas kami bisa saja tembus ke Sinjai.

Beberapa hari kemudian kami melanjtkan perjalanan lagi, ternyata tidak begitu jauh hanya saja jalanan bebatuan yang menghambat kakiku yang hanya berbekal sepatu kets hampir bocor. Tapi dengan melihat dan menikmati puncak "Pohon Tertinggi" capek dan sakit hilang sesaat. Kami menghabiskan beberapa menit menikmatinya dan mencatat beberapa hal serta merencanakan perjalan yang lebih jauh lagi.

Ini adalah catatan pertama kami sebenarnya, hanya saja kami baru mengingatnya setelah membuka catatan-catatan dan gambar-gambar terdahulu. semoga bapak, ibu, kakak yang di Sinoa sana  masih tetap bertahan menghalau segala hal yang berhubunan dengan modal dan kebijakan pemerintah yang masih saja tak pernah selaras dengan alam. amin

Salam cinta

Selasa, 04 Januari 2011

tak ada yang begitu romantis selain kabut di puncak lompobattang,

Tidak ada yang begitu menarik..
seperti pendakian pendakian biasa.. hanya kali ini kami tidak berdua saja, kami berangkat bersama dua anggota SAR dan seorang dari KPA. Tujuannya adalah puncak lompobattang dan mungkin kami akan melintasi puncak bawakaraeng hingga berakhir di daerah malino.


Ada sembilan pos yang kami lewati. Pos adalah tempat camp yang sebelumnya sudah ditentukan oleh Kelompok pencinta alam yang pertama kali membuka jalur ke puncak. Tiap pos yang kami lewati mempunyai pemandangan dan aroma alam tersendiri, pos pertama dan kedua adalah pos dengan tumbuhan liar seperti strwberry dan markisa, disini juga kita bisa membuat camp karena mata air yang dekat dari pos. pos ketiga adalah pos basah yang jalanannya dipenuhi jamur kuping yang beracung. pos keempat dan lima kami bisa melihat jalur yang menanjak dari kejauhan, kami juga mulai melihat sekumpulan lumut hijau ditiap dahan, pohon tumbah atau bebatuan.


Kemudian jalur yang paling menakutkan dan yang sering disebut pintu angin karena medan jurang yang berbentuk huruf U dan tak ada pepohonan disekitarnya. Pos enam dan tujuh. Tapi pos ini jugalah pos terindah menurutku. Istirahatlah sejenak, nikmati udara sejuknya kemudian lihat sekelilingmu,, tumbuhan benalu yang meliliti hampir semua pohon hingga dedaunanhya sudah tidak begitu hijau semakin mempercantik bebatuan dipinggir jalanan yang terjal yang sudah berwarna kuning, orange dan hijau oleh lumut tahunan. 

Kami berdua ketinggalan dibelakang, bukankah terlalu sayang untuk menyia-nyiakan kesempatan duduk berdua dibatu tertinggi pos tujuh dan delapan sambil bercerita panjang tentang apa saja. Kami tak menyia-nyiakannya, apalagi pohon-pohon yang mulai mengerdil dan hutan lumut yang kami lewati tak akan pernah kami dapat di perkotaan.


Dan,, hei tak ada yang begitu romantis selain kabut di puncak lompobattang, hingga aroma lavender dan bunga edelweis. Saya begitu cemburu kepada penghuni kaki gunung ketika orang-orang kota tak menyadari bahwa tak ada ruang romantis lagi buat mereka, tak ada lagi tempat berkencan buat mereka, lagian memang waktu untuk menikmati kopi hangat bersama kekasih di kota hampir tak ada.


kami akhirnya tiba di pos sembilan, membangun tenda hingga menikmati matahari tenggelam persis diatas landscape kota jeneponto dibalik lembah Bariya dan dibatasi dinding gunung yang mulai menggelap. Udara semakin dingin, kupluk, switer, kaus tangan dan kaki tidak cukup menghilangkan dingin dari tubuh kami. Hingga malam kami mulai terlelap, terdengar suara dari beberapa orang kelompok pencinta alam yang tiba belakangan dari kami, ternyata mereka adalah para pencinta alam dari kota Bone.


Bangun agak telat, tak rela pelukan kekasihku terlepas. Setelah terbangun, sarapan dan mengepack perlengkapan kami mulai berjalan menuju puncak yang sedikit lagai nyampe. dari jau sudah terlihat, puncak lompobattang yang gagah. Karena ini adalah jalur menuju puncak maka tak salah bila jalurnya semakin menanjak..


Tanjakkan menuju puncak hampir membuatku patah semangat, tapi bok mencoba menolong, tentunya dengan webing dan karbiner.. :) lumayan menakutkan. Tapi ketika puncak semakin kelihatan, maka tak ada kata takut lagi. tiba dipuncak dengan selamat..
dapat strawberry hutan



manis-manis campur air sungai



hutan lumut




to be continue..

Senin, 04 Oktober 2010

Cerita Kami tentang Kec.Mariso dan Bebalnya Peradaban

   salah satu sisi pemukiman rumah masyarakat Mariso yang tak memiliki ekses jalan yang layak menuju  rumah,              
   Kec.Mariso, Kel Panambungan Kota Makassar-Prop.Sulsel  (foto by oditetiN)

tampak jauh: sebuah mega gedung T(rans Studio) tempat hiburan siang malam bagi manusia moderen kota, ditempat itu dahulu merupakan salah satu tempat bagi masyarakat Mariso mencari kerang untuk dimakan dan untuk dijual, kini semuanya telah direparasi menjadi artifisial (foto by oditetiN)  


Makassar dan Anomali Kesejahteraan

Inilah space paling pinggir dari kota yang menjemukan ini, kota yang mengiming-imingi  masyarakatnya dengan obsesi kesejahteraan ekonomi dan segala kebutuhan hidup dalam peradaban yang menggila, Inilah proyeksinya, sebuah zona dimana kemiskinan direparasi dalam arena politik. Diinsyafi sebagian orang sebagai takdir dalam khotbah para penggila agama peradaban moderen. 
Kadang-Kadang sesekali kemiskinan terinterupsi, Oleh kompetisi para heroik intelektual dan politisi pemikir pasar dunia. Sebagai standarisasi bahwa mereka peduli dengan buasnya kemiskinan yang terjadi disekelilingnya, namun dengan letupan jantung yang memohon agar proposal program penanggulangan kemiskinan yang ia ajukan akan segera diapresiasi oleh sebuah founding raksasa. Dekade kehancuran, apalagi yang harus kita katakan. 
Dalam Tahun  2008 jumlah anak jalanan di kota Makassar mencapai 774 orang,(data:HIMAPID FKM UH). fenomena demikian tentulah akan bertambah pada tahun-tahun berikutnya(2010),indikasi paling kuat adalah kebijakan pemerintah yang seolah menutup mata terhadap situasi yang terjadi disekitarnya, pemerintahan berganti namun keadaan tetap sama, wilayah bermain yang tercuri, rumah-rumah yang dirangsek buldozer, anggaran yang dipolitisir serta setumpuk kebijakan yang memang kontraproduktif dengan kebutuhan masyarakat miskin, misalnya pembangunan RUSUNAWA.
Asumsi sederhana masyarakat hingga saat ini adalah justru berharap mendapatkan tempat(rumah yang layak), ekses jalan serta fasilitas umum yang merata bukan ditempatkan kedalam sebuah gedung konyol yang tak sama sekali memiliki standar kesehatan dan keselamatan. inilah realitas kota yang menyebalkan ini.  

Salah satu rumah yang didirikan masyarakat korban penggusuran di daerah Mariso, rumah sekaligus warung kecil ini didirikan diatas tanah milik orang lain.hingga sekarang tak ada ganti rugi setimpal atas penggusuran tersebut (foto by OditetiN

 salah satu bekas rumah warga yang digusur karena dianggap tidak memiliki surat kepemilikan syah atas tempat, tampak, puing yang kini menjadi onggokan kayu tua yang entah berapa lama pemilik rumah ini mengumpulkan uang untuk membeli potongan-potongan kayu ini,  (fotoby oditetiN)

Putaran Kedua dikota ini adalah Perampasan Tanah

Seperti biasa, Fenomena Kota bebal yang lainnya, media mainstream dan praktek feodalistiknya adalah sebuah mata rantai yang membinasakan perlawanan masyarakat urban. 
Dalam beberapa tahun terakhir daerah Mariso merupakan proyek raksasa yang di incar kalangan korporat. Hal ini telah terbukti dengan beberapakali terjadinya penggusuran ditempat ini, mulai dari pengambilalihan paksa tanah masyarakat untuk pembangunan rusunawa, pembukaan jalan,secara paksa  hingga pembangunan sejumlah gedung dan tempat hiburan ala disneyland, alasan apalagi yang akan dibenarkan ketika sejumlah isu telah terdengar bahwa tahun-tahun ini dan akan datang, daerah Mariso akan di reklamasi menjadi sebuah taman bermain atau daerah transportasi alternatif atau apalah yang direncanakan oleh mereka (Korporat dan antek kapitalis). Namun satu yang pasti, berulang kali perlawanan masyarakat yang menolak digusur dilakukan namun blow-up dari media justru sama sekali tak berpihak kepada masyarakat mariso. Apalagi kalau bukan Kapitalisme, feodalisme yang melatar belakanginya?
Selain karena letaknya yang strategis, Kecamatan Mariso, juga menjadi daerah  wilayah dagang bagi para pemilik industri klas menengah (kapitalis lokal). Misalnya pengolahan rumput laut dan hasil laut lainnya.

disisi yang lain, pembangunan gedung-gedung mewah dan tempat hiburan di makassar  menjadi semacam prioritas utama korporat, meski dengan usaha merampas tanah masyarakat Mariso,(foto by bok)
gedung-gedung yang membosankan,pengganti rumah masyarakat, gedung yang dibangun diatas tirani perampasan tanah dan ketaksepakatan masyarakat atas proyek nihilis ini, (foto by oditetiN)
maaf semua foto yang kami gunakan tak seindah jepretan anda, kami hanya berusaha menuliskan masa depan yang belum tertulis sebelum hasrat dialienasi para korporat menjadi tendangan yang telak ditulang punggung kami dan saudara-saudara kami di Mariso (fotobyBok)
 

bokbek © bokbokbekbek@gmail.com